PEMANASAN GLOBAL DAN BAGAIMANA IMPLEMENTASI AJEG BALI SECARA NYATA

June 26th, 2008 by bayak

Sepertinya terlambat jika membicarakan masalah Pemanasan Global saat ini, karena pertemuan di Nusa Dua Bali yang membicarakan masalah tersebut telah lewat setahun yang lalu. Namun tidaklah menjadi persoalan jika momennya sudah lewat, toh ini juga merupakan suatua usaha kesadaran yang berkelanjutan. Berangkat dari pemikiran itulah saya ingin kembali menyampaikan bahwa KTT dunia telah berakhir dengan kesepakatan yang dicapai, kemudian apakah ada tangguang jawab moral dan tindakan yang nyata dari masyarakat atau pada diri kita sendiri untuk mulai sedikit tidaknya mengurangi pemanasan bumi ini?
Kita lihat dan saksikan sendiri musim hujan bercampur angin yang terjadi beberapa bulan terakhir ini, selain siklusnya yang mulai bergeser, air pasang yang merendam beberapa daerah pesisir pantai dan yang paling kacau adalah ketika pagi hari kita rasakan udaranya dingin, siangnya menjadi sangat panas menyengat, kemudian sore harinya tiba-tiba mendungn dan hujan dengan lebat inilah salah satu contoh kecil yangn dinamakan Extreme Weather, bisa kita lihat dampaknya terhadap daerah-daerah yang kurang memperhatikan sistem pembangunan tata ruang kota sudah pasti akan mengalami banjir dan itu tidak main-main, akan terus semakin parah tiap tahun jika tidak medapat perhatian yang serius.
Sementara ini Bali masih relatif aman dibandingkan daerah lainya seperti pulau Jawa dan paulau lainya yang sebagian besar daerahnya mengalami banjir dan amukan angin Puting Beliung. Di Bali hanya daerah tertentu saja yang mengalami banjir dan itu adalah daerah dimana terjadi pembangunan yang sangat pesat namun tidak memperhatikan tata ruang pembangunan yang baik. Sekarang kita baru hanya menjadi penonton saja dari siaran televisi yang meliput daerah-daerah yang terkena banjir, beberapa tahun lagi sudah dipastikan kita sendiri yang akan ditonton orang sedang menaiki perahu diantara atap rumah terendam air, sedang menggotong barang-barang yang masih tersisa karena terendam air atau sedang tidur berjubel disatu atap di tenda pengungsian. Semua itu bisa terjadi kalau tidak dikembangkan sikap memperhatikan dan menjaga lingkungan dari sekarang.
Sungguh ironis memang, sebagai negara dunia ketiga atau negara-negara yang sedang berkembang lainya kita hanya menjadi objek pelengkap penderita, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Bagaimana tidak, kita dituduh sebagai pengexsploitasi suber daya alam dan hutan secara berlebihan yang turut menyumbangkan terjadinya pemanasan global, namun negara-negara maju dalam KTT yang lalu, ketika diminta untuk mengurangi buangan emisi gas pabrik, kendaraan dan industry lainya yang banyak menghasilkan timbal dan karbondioksida itu semua menjadi penyebab terbesar terkikisnya lapisan Ozone malah untuk bilang iya saja sangat demikian sulitnya.
Dalam laporan yang dikeluarkan tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktifitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1,4 - 5,8 derajat Celsius (2,5-10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100.(sumber WIKIPEDIA)
Laporan tersebut menyebut manusia sebagai biang utama pemanasan global. Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir.
Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961.
Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 2,7 derajat Fahrenheit (setara 1,5 derajat Celcius). Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah.
Dampak yang akan ditimbulkan oleh permasaahan ini antara lain.
1. Cuaca
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
2. Tinggi Permukaan Laut
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.
3. Dibidang Pertanian
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian belahan bumi lainya, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering, seperti di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
4.Hewan dan Tumbuhan
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini.
5. Kesehatan Manusia
Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. (sumber WIKIPEDIA dan mesin pencari tercanggih GOOGLE)
Sedangkan di Bali sendiri sudah adakah usaha-usaha yang dilakukan dari masyarakat kita untuk mengantisipasi semua itu? Itu adalah pertanyaan besar kepada kita semuanya, karena selama ini baru organisasi tertentu saja yang tetap gencar menyuarakan tentang Global Warming ini. Kita sendiri malah sedikitpun tidak peduli dan seolah tidak ada kesadaran diri dengan persoalan-persoalan seperti itu. Kita masih berkutat pada masalah perut saja selama ini, sehingga hal-hal yang menyangkut kelangsungan generasi masa depan sudah terancam kita belum juga membuka mata dan menyadarinya.
Dan bagaimana dari seniman Bali itu sendiri, apakah tergerak naluri Kreatif dan kesadarannya untuk merespon isu tersebut? Apa saja tindakan nyata yang bisa dilakukan seorang seniman untuk ikut menjadi bagian dalam gerakan kesadaran akan bahaya dari pemanasan global ini, apakah cukup dengan mengikuti pameran seni rupa saja? Setelah selesai berpameran kemudian lupa semuanya atau sama sekali tidak paham? mahluk apa gerangan itu Global Warming? Yang lebih parah lagi orang-orang dengan pemikiran EGP (emang gue pikirin)
Jika ingin mengetahui gambaran kecil effect dari pemanasan global ini terhadap kehidupan kita silakan cari dan tonton DVD/VCD film The Day After Tomorrow yang direlease tanggal 28 Mei 2004, jangan lupa mempersiapkan camilan sebanyak-banyaknya, minuman secukupnya dan segera cari posisi duduk atau tiduran yang baik sehingga tidak mengalami kesemutan nantinya. Kalau tidak mampu membeli yang original cari yang bajakan saja “Piece of Cake” Kata orang-orang Bule, dijamin gambarnya sudah bagus dan kalau beruntung film yang dibajak itu belum disensor anda bisa menyaksikan adegan yang membuat jantung berdebar dan lumanyan tegang “Piracies Is An Art” kata Zack De La Roca.
Selain manamkan kesadaran diri kita masing-masing, sangatlah strategis apa bila orang-orang yang bisa menjadi guru (digugu dan dituru) oleh bayak orang (publik) yang digandeng untuk mensosialisasikan dan menanamkan kesadaran masalah Global Warming seperti yang berkembang sekarang ini. Salah satu contoh misalnya para sulinggih yang biasa memberikan Darma Wacana tentang bayak hal mulai dari tata cara atau kebiasaan yangn salah dalam sembahyang, tapi dalam konteks sosial ini tema Darma Wacana menyangkut bagaimana menyikapi masalah lingkungan dan apa dampaknya terhadap pemanasan Global. Dengan memberi perbandingan dan fakta-fakta tentang bagaimana kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kalau kita tidak menyikapi masalah lingkungan ini dengan baik, apa nilai-nilai luhur dari kebudayaan dan kepercayaan kita dalam kaitannya dengan kebersihan dan sebagainya. Para sulinggih ini bekerjasama dengan instansi terkait atau stasiun televisi lokal akan menjadi media yang sangat efektif untuk sosialisasi, karena sudah tebukti banyak kalangan masyarakat kita yang menyukainya dan pasti sasaran yang dituju juga akan lebih luas.
Dalam lingkup yang lebih kecil, dalam setiap desa adat di Bali tentunya sudah ada awig-awig (peraturan) desa masing-masing, baik yang tertulis ataupun tidak. Sebagai pemimpin desa adat saat ini dituntut kemampuanya menyikapi permasalahan kontemporer dalam masyarakat, bagaimana menyesuaikan peraturan yang telah ada untuk menyikapi dan menumbuhkan rasa kepedulian menjaga lingkungan dalam diri masing masyarakat. Salah satu cara misalnya dengan menambahkan awig-awig baru yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan, seperti membuat awig-awig tentang pengelolaan sampah yang benar, agar setiap warga masyarakat tidak membuang sampah ke sungai sehingga pada musim hujan tidak terjadi penyumbatan aliran air yang menyebabkan banjir. Awig-awig tentang bagaimana menjaga sumber mata air agar tidak kering dan tercemar limbah industri ataupun limbah rumah tangga, misalnya dengan jalan tidak menebangi pohon-pohon besar yang menjadi sumber resapan air sehingga tidak terjadi longsor dan keringnya sumber mata air atau membuat sistem pengolahan atau penampungan-penampungan untuk limbah dan sampah organik ataupun non organik. Semua bentuk peraturan itu dilengkapi sangsi-sangsi adat yang sesuai dengan perbuatan yang bisa merugikan orang banyak. Sangsi bisa berupa pecaruan, didenda atau yang melakukan pelanggaran melakukan kerja sosial membersihkan lingkungan selama kurun waktu tertentu yang telah disepakati bersama. Karena kecendrungan masyarakat Bali itu lebih mematuhi peraturan adat dengan sangsi adatnya dari pada peraturan yang lain. Juga sebagai langkah awal untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan atau masalah-masalah sosial lainya. Jalan ini bisa digunakan dengan tujuan positif dan itu tetentunya tidak akan bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang telah ada dalam masyarakat Bali sebelumnya. Inilah salah satu cara mewujudkan Ajeg Bali secara nyata dalam masyarakat kontemporer tanpa meninggalkan nilai-nilai dari kebudayaan kita yang telah ada.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi banyak orang, namuan kalaupun tidak berguna sama sekali saya yakin satu atau dua orang yang paham dengan pemikiran ini akan mengerti apa yang menjadi inti tulisan ini.*muliana bayak*

Connected links:

http://profiles.friendster.com/bayakrock
www.myspace.com/geekssmile
www.angrysouls.multiply.com
http://en.netlog.com/art_factory

huyyyyyy semua

September 17th, 2006 by bayak

rockkkkk mannnnn